Rabu, 25 Mei 2011
Pemimpinku mengajarkan kesederhanaan
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 04.00 0 komentar
Minggu, 15 Mei 2011
Hadiah Tuhan untukku dan suamiku tercinta
Suhu saat itu didalam ruangan menunjukkan angka 18 derajat celcius. Harusnya yang Nisa rasakan adalah hawa yang sejuk bahkan dingin. Tapi kali ini tidak, panas terasa saat mulai teringat perilakunya dan disetiap tutur kata Farid, suaminya. "iya", singkat ia membalas pesan panjang yang sudah telanjur Nisa kirim melalui ponsel lamanya. "Hari ini pulang jam berapa? tadi aku pergi ke kantor, tapi kepalaku pusing, jadi aku pulang lebih awal yang. besok kan libur, kita kerumah ibu dan bapakku yah, sudah lama enggak kesana. oh ya, aku masak makanan kesukaan kamu nih, langsung pulang yah selepas pekerjaan selesai, miss you yang", itulah pesan yang telah terkirim.

Malam itu, dimana menjadi malam terindah seharusnya untuk Nisa dan Farid, Nisa berniat memberikan berita yang akan membuat Farid bahagia dan akan makin memperhatikannya. Tapi, kondisi yang terjadi berkata lain, jam biru hadiah teman kantornya untuk pernikahan mereka 2 tahun lalu telah menunjukkan pukul 11 lewat. Nisa coba untuk meneleponnya berkali-kali, bahkan sudah mengirimkan pesan sekedar mengingatkan ia bahwa ia sudah berjanji untuk pulang lebih awal. Tidak ada satupun tanda-tanda yang akan menjawab kegelisahannya. Pikiran Nisa makin negatif, ia khawatir terjadi hal-hal yang tidak diharapkan seperti kecelakaan atau hal yang lebih parah dari itu. Masya Allah, berkali-kali ia mohon ketenangan padaNya, dan meminta belas kasihan pada Allah agar Ia melindungi suaminya tercinta.
Tak lama Farid pulang, "Syukur kamu baik-baik saja", ucap Nisa spontan sambil berlalu ke dapur untuk memanaskan makanan yang sudah terlalu dingin. "Memangnya kenapa?", tanyanya santai. "coba cek hp kamu!", minta Nisa dari arah dapur. Rumah mereka tidak besar, hanya ada 1 kamar tidur utama, 1 kamar tidur tambahan, ruang tamu, ruang keluarga yang dwifungsi yaitu sebagai ruang makan juga dan 1 ruang dapur. Ukuran yang hampir sama pada setiap apartment di tengah kota. "Aku berkali-kali telpon kamu, aku juga meninggalkan pesan", jawab Nisa. "ooo", kata yang biasa Farid jawab. Mendadak Nisa sangat marah, sakit hati rasanya menahan tuntutannya atas rasa cuek-Farid. "kok cuma oooo, bukan dijawab?", kejar Nisa lagi. "loh, memangnya mau dijawab apa? kan aku udah pulang", jawab Farid makin santai sambil pergi ke kamar mandi. Nisa memilih untuk berhenti bertanya-tanya lagi, Nisa pikir ia akan memulai percakapan lagi, memuji masakan yang telah Nisa buat, atau sekedar bertanya keadaannya yang sebelumnya telah Nisa katakan dalam pesan disiang harinya bahwa Nisa pulang kantor lebih awal karena pusing. Ternyata sampai subuh tiba, tidak ada percakapan lagi diantara mereka.
"Aku nanti mau ketempat teman kuliah dulu, sudah lama tidak kumpul-kumpul, mereka protes padaku", ucap Farid saat sarapan. lagi-lagi ia lupa permintaan Nisa untuk menghabiskan waktu weekend-nya menemani Nisa kerumah orang tuanya. Memang semua akan protes dengan kesibukkan Farid pada pekerjaan, hampir dalam waktu 1 bulan penuh ia akan pergi dinas luar kota atau luar negeri, hanya akan ada beberapa hari tinggal di ibukota atau pulang ke rumah, jangankan teman-temannya yang protes, Nisa saja sebagai istri harus pandai-pandai menyimpan tuntutannya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Farid. Tapi, tidak semudah dalam sebuah sinetron rasanya, harus ia simpan rasa rindu yang begitu menggebu saat Farid tidak disampingnya, saat Farid meninggalkan Nisa. Dengan sangat keras usahanynya untuk mencoba menanamkan baik-baik dalam benaknya bahwa pergi suaminya keberbagai tempat adalah demi menafkahinya dan keluarga, begitu besar cintanya pada Nisa dan keluarganya hingga ia menghabiskan masa lebih untuk bekerja ketimbang untuk berjalan-jalan, walau dengan istrinya sekalipun. "Nanti aku kerumah Ibu yah, aku sudah janji kemarin sore dengan Ibu, khawatir Ibu menungguku, boleh?", tanya Nisa sambil duduk memperhatikan Farid yang tengah bersiap-siap untuk pergi. "hhmmm", jawab Farid yang mengartikan ketidak masalahannya untuk mengizinkan Nisa pergi. Saat Farid pergipun, tak ada kecupan hangat atau sekedar nasihat untuk Nisa agar berjaga diri selama perjalanan atau setidaknya ia teringat bahwa ia-pun sudah terlanjur berjanji pada Nisa lagi kemarin siang.
Air mata mulai tidak terbendung, mengalir bulir demi bulir secara diam-diam, dan Faridpun pergi meninggalkan kamar tanpa tahu kekecewaan Nisa tersebut, dan Nisa tetap duduk terdiam di ujung tempat tidur. "Sayang, yang sabar ya", ucap Nisa lirih pada diri yang lemah tersebut. Nisa-pun beranjak dari duduknya mencari hanphone untuk memberitahukan pada Ibu bahwa ia akan sampai pada jam 11 siang nanti, saat itu masih jam 9 siang. Jarak rumah Nisa dan orang tuanya hanya 1 jam saja dalam kondisi hari libur, untuk hari biasanya bisa memakan waktu 2 jam disebabkan kemacetan ibukota. Jam 10 kurang 5 Nisa pergi meninggalkan rumah, setelah Nisa pastikan rumah bersih dan rapih. Nisa menaruh setangkai bunga mawar didalam gelas yang telah disulap jadi vas bunga diatas meja makan berukuran 1 meter X 1 meter. Entah mengapa ia ingin mengenakan gamis biru tua dan kerudung biru muda, pakaian yang ia kenakan saat Farid melamarnya dulu. Yah, mungkin saja itu kebetulan, kecintaan Nisa pada suaminya yang menggerakkan tangannya dan mengarahkan pandangannya terhadap pakaian itu, hingga ia memilihnya.
Kereta jabodetabek menjadi pilihan Nisa, Nisa suka naik kereta bila berpergian sekitar daerah jakarta-bogor-tanggerang dan bekasi. Mudah dan cepat menjadi alasan utamanya. Keretanya pun dilengkapi dengan AC dan kekinian, kereta sudah menyediakan gerbong khusus wanita, hal itu membuat Nisa makin tidak ada pilihan lain selain menjadi pecinta kereta. Innalillahi, kereta yang Nisa naiki mengalami kecelakaan, keretanya keluar dari rel dan terbalik. Banyak korban yang berjatuhan, termasuk Nisa.
Ruang operasi menjadi tempat yang menentukan hidup Nisa akan berlanjut atau tidak, akan menentukan apakah ia akan meneruskan pengabdiannya pada suami tercintanya atau tidak lagi, akan menentukan apakah ia akan mendengarkan ungkapan cinta Farid padanya atau tidak. Diluar sudah menunggu Farid, orang tua Nisa, orang tua Farid dan beberapa sahabat Farid. Farid terlihat cemas saat itu. Seketika, dokter keluar dari ruang operasi dan memanggil Farid untuk mengajaknya keruang kerjanya. "Bapak Farid, saya belum bisa pastikan apakah istri bapak akan selamat atau tidak, kami akan melakukan semaksimal yang kami bisa, semua terpulang pada izin Allah SWT. Akan tetapi, kami memohon maaf sebab kami tidak bisa menyelamatkan anak dalam kandungan istri anda, istri anda mengalami benturan yang cukup kuat saat kecelakaan itu dan benturan itu terjadi disekitar perut serta kepalanya, Allah belum mengizinkan janin tersebut selamat, sabar ya Pak Farid" penjelasan panjang dokter yang membuat Farid terdiam dan sudah dapat dipastikan kekejutannya.
4 hari Nisa tidak sadarkan diri didalam ruang ICU selepas operasi, Farid menemaninya, menunggunya tepat disebelah Nisa, tidak pergi dan tidak bekerja barang 1 hari-pun, makanpun ia lupa, syukur ada orang tua Nisa atau Ibunya Farid yang terus datang setiap hari, ya, semua cemas pada kondisi Nisa. Farid tidak banyak bicara, ia hanya memperhatikan wajah Nisa, sesekali ia usap kening Nisa dan menciumnya. Dan, Faridpun menangis, ia menangis karena ia baru sadar bahwa ketika ia tidak tidur sekalipun Nisa selalu mengurusnya dan selalu memberikan rasa sayangnya dengan pesan-pesan panjang, atau memberikan kabar mengenai dirinya, kapanpun, dimanapun Nisa saat itu.
Sudah genap 2 minggu kondisi Nisa makin melemah, benturan dikepalanya menyebabkan pendarahan dikepalanya, sampai Nisa-pun diberi hadiah pada Allah yaitu Allah hentikan rasa sakitnya, ia pulang kepada yang menciptakannya, meninggal dunia. Farid hanya terdiam, ia tidak menangis atau marah pada siapapun. Ia hanya terdiam.
Seusai pemakaman, Farid memilih untuk beristirahat di apartemennya seorang diri, ia menemukan setangkai mawar merah yang sudah menghitam dan layu. Ia kembali kekamar sambil membawa bunga mawar tersebut, ia pandangi foto Nisa dikamar itu, ia berpikir untuk merapihkan barang-barang Nisa, ia buka laptop Nisa, saat Laptop mulai bekerja, ia lihat wallpaper di laptop Nisa adalah gambar ia dan Nisa. Ia lihat folder demi folder, semua folder diberi nama: myheavenFarid-musik, myloveFarid-data, myeverythingFarid-pict dan satu lagi mybreathFarid-story. Ia buka folder terakhir, mybreathFarid-story, didalam folder tersebut ada banyak cerita mengenai perasaan dan pendapat Nisa mengenai Farid, semua terangkum disana. Dan Faridpun mulai menangis, mulai lemah dan menyesali apa yang sudah ia perbuat. "Maafkan aku Tuhan, telah membuat ia menangis atas rasa angkuhku, ia menyebutku sebagai surganya, cintanya, segalanya bahkan nafasnya... Ia buktikan itu, tapi aku yang menjadi surganya, cintanya, segalanya bahkan nafasnya tidak mampu menjaganya sedikit waktu saja sampai aku tidak tahu bahwa ia mengandung janin yang sedah kami nanti-nanti dari awal pernikahan kami, kusibukkan diri ini dengan menganggap dirinya bisa menerimaku APA ADANYA". Satu kata yang membuat Farid beranjak pergi dengan segera ke kubur Nisa saat itu "Kak Farid adalah dambaan Allah untukku, maka untuk apa aku marah pada sikap-sikapnya, ia adalah dambaan Allah yang dikirim untukku, maka sudah sepatutnya aku Syukuri, dan benar, suamiku ini mengajari aku bagaimana menjadi istri yang sholehah, salah satunya adalah bersabar dan terimakasih Allah atas amanahmu kepada kami, akan segera hadir malaikat kami, dan akan aku jadikan berita ini sebagai hadiah terindah untuknya nanti malam, sepulang ia kerja, subhanallah, terimakasih ya Allah".
Allah memberi hadiah kepada kedua insan ini, Nisa dihadiahkan suami yang akan mendoakannya dalam setiap kenangan dan air mata kerinduan. Sedangkan Farid dihadiahkan seorang istri yang mengajarkannya arti cinta. Apapun yang telah terjadi pada kehidupan mereka, tetap menjadi yang terbaik untuk mereka dari Allah SWT, semoga cerita singkat ini dapat mengingatkan kita akan orang-orang yang ada didekat kita, ingatlah, mereka amanah dari Allah, jagalah mereka seperti engkau menjaga dirimu sendiri, jangan biarkan air mata yang seharusnya menjadi rasa syukur digantikan oleh penyesalan berkepanjangan. "Selamat berjuang untuk cinta"
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 19.38 0 komentar
Selasa, 19 April 2011
Ternyata Umurku Itu Berkurang
"Ya Ilahi Rabbi, andai aku mati, matikanlah aku dalam keadaan khusunul khatimah, matikan aku dengan semua orang menangis atas sepeninggalanku, matikan aku dengan meninggalkan kemanfaatan untuk umat, matikan aku dalam keadaan bebas tak behutang dengan sanak saudara, matikan aku dalam keadaan tidak pernah takut akan kematian..." Ternyata, aku baru sadar bahwa umurku itu berkurang. Artinya hanya tinggal sesaat lagi aku dapat berandai-andai dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini. Bukan aku meminta pada sebuah kematian, tapi aku sadari kematian itu adalah pasti. Sakit... saat aku atau manusia lain mendapatkan sakit diusianya, maka sabar adalah upaya yang harusnya dilakukan. Sabar dengan usaha-usaha penyembuhan sampai usaha berserah diri pada yang menciptakan rasa sakit itu. Sebegitu teganya kah Allah ciptakan sakit untukku dan manusia lain?? Bukan, ternyata Allah bukan ingin menyiksaku dan manusia lain dalam sakit itu. Melainkan, Allah memberiku yang terbaik. Jika aku sakit, aku mengerti begitu berharganya sehat, begitu bermanfaatnya besederhana dalam makan, pergaulan dan keseharian, dan serta aku mengerti begitu sayangnya orang-orang disekitarku, kian memberi perhatian padaku, memberi doa yang tidak putus-putus untuk kesembuhanku dan memberikan makna "ukhuwah" yang begitu nyata. Subhanallah, maka... Terimaka kasih ya Allah, engkau titipkan rasa sakit hingga mampu meneteskan air mata menahan perih dan sakit, semoga, buliran air mata ini adalah buliran dosa yang kau angkat ketika aku berusaha dan berpasrah padaMu. Letih... saat aku atau manusia lain merasakan keletihan yang luar biasa dengan perkara-perkara dunia yang tiada usai, maka sabarpun menjadi kunci dari rasa itu semua. Aku dan manusia lain dianjurkan untuk bersabar menghadapi urusan-urusan dunia yang tidak sedikit membuat letih badan. Apakah Allah tega membuat aku dan manusia lain letih dalam urusan-urusan dunia?? Bukan, ternyata Allah bukan ingin membuatku putus asa akan tetapi Allah memberiku kesempatan yang luar biasa, perasaan yang akan aku dan manusia-manusia lain rasakan di "Jannah' nanti (red: Insya Allah, Amin). Allah memberikan proses agar aku dan manusia lain benar-benar merasakan bahagianya mampu bersabar dan berserah diri pada kekuasaanNya yang maha Indah, maha Sempurna. Begitu kerikil mampu aku dan manusia lain hadapi, maka jalan lurus dan haluspun akan aku peroleh menujuNya. "Umurku memang berkurang, tapi aku dan manusia-manusia lain berusaha ibadahku dan manusia lain kian bertambah...Amin" "Aku memang bukan ahli surga, tapi akupun tak mampu menahan siksaan neraka.. Dosa-dosa yang tak terhitung bagai debu ini tak sulit bagimu untuk mengampuninya, Inspirasi - Haddah Alwi" RuangRindu, Supernova
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 09.04 0 komentar
Selasa, 29 Maret 2011
Buta Mata atau Buta Hati?
- Bermula dari sebuah Prasangka
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 07.04 0 komentar
Rabu, 09 Februari 2011
Bodohnya saya, atau???
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 20.21 1 komentar
Selasa, 08 Februari 2011
Saya masih cinta padamu...
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 06.54 0 komentar
Minggu, 06 Februari 2011
Jika Aku sendiri dan Jatuh Cinta
Ketika Semua Manusia Meninggalkan saya dalam kesendirian, saya harus teringat bahwa Allah pernah Berkata,
"Wahai Hamba-Ku,
Kini Kau Tinggal Seorang Diri,
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat,
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu. Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku
Hari Ini,….
Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Membuat Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".
"Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"
Firman Tuhan membuat saya lebih tersenyum dalam kesendirian, saya merasa terpukau pada setiap bait-bait bak syair seorang kekasih pada yang dicintanya.
Saya yakin, bahwa saya tidak boleh takut pada akhir, yakin pada proses, itulah yang membuat sebuah pendapat, berakhir motivasi, karena akhir tak ada yang buruk, akhir tak ada yang hina, yakin pada proses kehidupan sehingga setiap langkah tidak akan mengisakan penyesalan. Semua akan berbuah hikmah.
Teringat sajak seorang pujangga dalam meminta hati-nya selalu terjaga,
Ya Allah, jika aku jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatannya
untuk mencintaimu
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta
Jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati
Izinkahlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu
Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu, dan jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati
Jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu
Ya Allah, engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam mebela syariat-Mu
Kokokanlah Ya Allah ikatan ini atas ridho-Mu, kekalkanlah cinta ini, seperti kekalnya cintaku pada-Mu, tunjukilah jalan-jalan cahaya-Mu, penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar, lapanglanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin Ya Rabbal `Alamin
Berbaik sangka pada pencipta hati, itulah satu-satunya cara untuk memperoleh ketenangan lahir dan batin. Saya-pun sedang mempelajari bab itu, tidak mudah, tidak hanya cukup untuk dibaca, perlu dipahami dan diimplementasikan. Semoga saya dan kalian berhasil.
Maka, tetaplah bahagia wahai manusia yang merasa takut akan kesendirian, Substansinya, itu bukan musibah, tapi anugrah. Nikmati setiap terpaan yang menampar hati, karena dengan itu hati kita semakin kokoh, tersenyumlah dengan kepahitan, karena itu belum seberapa dengan pahitnya kehidupan didepan sana. Sekali lagi, sayapun sedang mempelajari itu, semoga saya lulus dalam bab ini.
Supernova, ~RuangRindu~
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 21.41 0 komentar
Jumat, 04 Februari 2011
Bertemu dan Berpisah, itulah Hidup sesaat
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 18.41 0 komentar
Aku Makin Cantik

Coba kau lihat, dahiku tidak berkerut-kerut oleh pikiran dan kepedihan seperti beberapa hari yang lalu. bibirku tidak mengerucut oleh kejengkelan dan kemarahan seperti kemarin. mukaku tidak lagi tertekuk penuh beban dan kebetean seperti waktu-waktu yang lewat. tubuhku tidak lagi lesu karena keputusasaan dan kehilangan harapan.
Sungguh, aku makin cantik hari ini! mataku bersinar-sinar oleh kegembiraan, bibirku merekah lebar oleh senyum ketulusan, pipiku merona merah oleh semangat pengharapan, urat-urat wajahku santai memancarkan aura kepasrahan, semuanya menjadikan wajahku berseri-seri.
Sudah sehari aku banyak tersenyum, manyanyi, dan menari, menikmati hidup ini, dan tidak membiarkan permasalahan memengaruhi suasana hatiku. sudah sehari aku berusaha banyak menyapa dan memaafkan semua saudaraku, sudah sehari aku berusaha berderma kepada mereka.
Aku mensyukuri setiap karunia Ilahi, kini, kurasakan Allah menambahi nikmat itu dengan menjadikanku cantik sekali.
Cantik yang tidak akan pernah hilang karena debu, polusi dan kosmetik… karena yang kurasa, cantik yang kunikmati kini adalah cantik ilahi…. mungkin engkau tak mampu melihatnya, tapi aku merasakannya….
Supernova, ~RuangRindu~
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 03.14 0 komentar
Menangislah

Diposting oleh Nova Fithra Sari di 02.49 0 komentar
Rabu, 02 Februari 2011
Padang Besar dengan semangat yang Besar
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 07.33 0 komentar
Sabtu, 29 Januari 2011
USAHA kah?

Diposting oleh Nova Fithra Sari di 05.49 0 komentar
Tuhan, Dimana jodoh saya?
hhhmmm, "Tuhan, dimana Jodoh saya?", mungkin itulah yang akan terlintas dalam pikiran kita para perempuan yang pekat perasaannya. dari 24 jam, kita hanya menghabiskan 2 jam untuk belajar dan sisanya memikirkan "dimana jodoh saya?". (Sama kah dengan yang kalian rasakan?) ^_^ Ketika sebuah rasa digembar gemborkan dalam sebuah pertengkaran antara adam dan hawa, baik yang sudah halal atau di"halal-halalkan" maka, 100% air mata menemani percekcokan itu. Tentunya, bukan pria yang meneteskan air mata, tapi si makhluk nan halus hatinya, kerap berdetak jantungnya ketika ia mengingat sang kekasih yang 0,001 persen berbeda dari biasanya, dan yang menghayalkan menjadi wanita satu-satunya yang akan dicintai seorang pria, menjadi istri yang dipuja-puja suaminya dan menjadi ibu yang tetap awet muda agar menjadi penguat pertahanan sebuah rumah tangga, bagi saya Kelak!!. Kembali, "Tuhan, dimana jodoh saya?". Entah saya yang bodoh menulis hal ini atau memang saya juga ikut bertanya, "Tuhan, dimana Jodoh saya?". Pernahkah membayangkan, Tuhan akan mengirimkan BBM atau SMS atau wall hanya untuk sekedar memberikan jawaban atas pertanyaan sebelumnya? Tidak semudah itu sepertinya, bukan berarti Tuhan menyulitkan. Yakinkan, bahwa Tuhan menginginkan kita sabar, ya...Sabar. "Inilah saya, apa adanya saya...", wahai pria, seberapa sering kalian mengungkapkan kata-kata itu pada wanita sebagai dalil yang sebenarnya kalian tidak ingin dipersulit sedikit saja, padahal harusnya kalian bisa duduk bersama memikirkan asa dan rasa hubungan kalian. ingat, itu hubungan kalian, bukan hubungan diri terhadap diri. atau "Kamu ga bisa ngertiin saya, kamu cuek, kamu keras kepala...", kali ini, coba saya belai sedikit para wanita untuk mengingat seberapa PD-nya kalian mengungkapkan kalimat diatas, padahal harusnya kalian bisa saja lebih dulu mengerti apa yang pria inginkan, beri pria perhatian dan ruang sebagai makhluk cuek. sekarang ada lagi... "Kamu harus dengar apa kata saya, saya ga suka kalau kamu berteman dengan dia..." wow... sebuah petunjuk bahwa pria mulai menggukan sifat kepemimpinannya, sayangnya kata "harus" tidak mencerminkan kepercayaan dan pemahaman atas "Manusia adalah makhluk sosial". "Kamu dimana, sama siapa, atau lagi apa, kok ga telp2 aku?" heheheh, hal inilah yang didominasi oleh kaum hawa, akui saja kalau wanita sering melakukan ini. hhhmmmm, ternyata serba salah... menjadi karakter yang cuek atau posesif akan berdampak tak indah pada hubungan, atau menginginkan dimengerti terus juga akan berakibat hubungan tidak timbal balik. Lantas apa yang harus dilakukan? Saya, disini bukan ingin menjadi penengah, saya menulis-pun bukan berdasarkan sumber yang omong kosong, saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa pertanyaan itu tidak perlu lagi saya tanya pada Tuhan, itu sama saja saya tidak percaya pada janji Tuhan yaitu "Jodoh". kata-kata pria dan wanita diatas juga bukan sebuah kutipan sinetron Indonesia yang bisa di atur dengan sebuah skenario manusia, tapi saya yakin, diri saya, atau KAMU semua pernah melakukan itu. Saya tersadar, bahwa benar kata kakak saya "Kamu atau dia tidak bisa mengontrol perasaan kalian masing-masing atau sebaliknya, yang dapat mengontrol hanya yang menciptakan perasaan itu, maka serahkan pada yang memilikinya, biar Ia yang Maha Tahu yang mengaturnya, komposisi bumbunya, cara mengadonnya, besar kecil pemasaknya dan cara menyajikannya". Saya atau KAMU sampai kapanpun akan hanya ada dalam kata "Andai..." Pengandaian yang hanya membuat saya atau KAMU memiliki pemikiran yang negatif dan akhirnya menagis, menangisi hal yang tidak semestinya ditangisi. Saat ini, saya dan KAMU hanya bisa menjadi kepingan asa dan rasa. Menyadari wanita diciptakan dengan penuh perasaan dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki, sedang Pria dengan kesungguhan logika. Bukan berati wanita terus menangisi kisah hidup sampai melupakan ibadah terpentingnya dalam hidup, yaitu menjadi wanita yang cemerlang dunia akhirat, sadari, kalau wanita cemerlang itu tak akan takut jodohnya lambat atau cepat, mungkin sebenarnya sudah banyak yang ingin mengkhitbahnya, tapi karena tertunduk malu, sang calon imam yang kurang iman kabur. Sedang pria, bukan berarti kalian dengan entengnya meninggalkan perkara-perkara kecil tanpa diperhatikan, sekecil apapun perkara itu butuh penuntasan, jangan biarkan bibit-bibit kesedihan akan berkembang biak menjadi malapetaka dihari nanti. 3 atau 10 tahun kita kenal dengan seseorang, bukan menjadi patokan dia paham kita atau sebaliknya. Pembuktiannya, tanya saja pada diri masing-masing. Hidup bukan sebuah permainan seperti playstation, yang bisa kita ulang kapan saja. Hidup butuh pilihan, Pilihan itulah yang akan menjadi konsekuensi. Wanita, tetap syukuri ciptaan Allah, karena kamu memiliki kepekaan rasa, sehingga dengan rasamu itu kamu memiliki Cinta, dan kamu diarahkan oleh rasa itu untuk memilik ia, dan terimalah ia, terimalah dengan membantunya menemui kebutuhan-kebutuhan rohani dan jasmaninya. Pria, tetap syukuri ciptaan Allah, karena kamu memiliki akal logika yang kuat, sehingga dengan akal logika kamu menemukan Cinta, dan kamu diarahkan oleh logikamu untuk memilih ia, dan terimalah ia, terimalah dengan membantunya menemui kebutuhan-kebutuhan rohani dan jasmaninya. Bayangkan ketika orang yang ada didepan kalian pergi dan tidak bisa menerima rasa atau logika kalian, belajarlah bersyukur pada apa yang sudah diusahan orang lain untuk kita. Semoga Allah senantiasa memperkaya kita dengan rasa sabar, hingga tiba waktu dimana saya atau KAMU memutuskan semua. Amin. Supernova, Ruang Rindu...
Diposting oleh Nova Fithra Sari di 04.51 2 komentar

